"Salam sejahtera dan selamat baginya yang lahir dari haribaan Sayidah Maryam. Salam atas hari wafat dan hari kebangkitannya."
Dengan susah payah ia sampai ke sebuah pangkal pohon, nafasnya
terengah-engah karena kelelahan. Sepanjang hidupnya, ia menghiasi
dirinya dengan kesabaran dan sedikit berbicara, namun kali ini ia merasa
fisiknya yang lemah tak mampu lagi memikul semua beban. Apa yang
membuatnya takut adalah sorotan penuh curiga dan gunjingan orang-orang.
Oh tidak! Maryam memiliki kekuatan lebih dari itu. Rasa sakit menjelang
melahirkan memaksanya untuk bersandar di pangkal pohon kurma. Tak terasa
air matanya menetes dan dadanya mengguncang sambil lisannya mengucapkan
sesuatu..."
Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan." (QS: Maryam: 23)
Detik-detik yang sangat berat dan menguras keringat kian membebani jiwa
dan raga Maryam dan tiba-tiba terdengar seruan dari langit…"
Janganlah
kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai
di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu,
sesungguhnya pohon itu akan menggugurkan buah kurma kepadamu." (QS:
Maryam: 24-25) Maryam menggoyang pohon kurma itu dan buah-buah kurma
yang segar jatuh di sekitarnya. Pada saat itu, kedamaian menyelimuti
seluruh jiwa Maryam dan Isa pun hangat dalam dekapannya.
Warga kota dengan penuh tanya menyoroti gerak langkah Maryam. Hanya
Tuhan yang bisa melindungi Maryam dari sengatan lidah-lidah tak
bertulang dan berbisa mereka. Wahai Maryam janganlah engkau bersedih
hati, dan janganlah engkau takut terhadap tudingan orang-orang. Engkau
memiliki seorang anak yang merupakan hadiah dari Tuhan langit dan bumi
dan pelita kenabian akan memancar dari dahi bayi itu. Namun, orang-orang
mulai mempertanyakan kesucian Maryam. Badai celaan dan tudingan kian
mengusik ketenangan batin Maryam. Pada saat itulah, Tuhan menampakkan
keajaiban. Kalimat yang paling agung mengalir dari lisan bayi di
gendongan Maryam dan membuat jiwa-jiwa tersentak dan mata mereka saling
menatap penuh heran.
Seorang bayi berbicara dalam
gendongan ibunya. Isa al-Masih dengan bahasa yang fasih membela kesucian
ibundanya dan memberi kesaksian atas kemuliaan sang ibu. Semua terdiam
membisu dan saling memandang seakan tak percaya apa yang terjadi. Allah
Swt mengutus rasul-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dan membuktikan
keagungan-Nya kepada orang-orang yang ingkar.
"Mereka berkata,
bagaimana kami akan berbicara dengan anak yang masih kecil dalam ayunan?
Isa berkata, sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku alkitab
dan menjadikan aku seorang nabi. Dan dia menjadikan aku seorang yang
diberkati dimana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku
mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup."
Para utusan Tuhan senantiasa bersabar dan berjuang di jalan-Nya demi
membimbing umat manusia serta menegakkan keadilan dan kebenaran di muka
bumi. Kafilah para duta langit seperti Nabi Musa as, Nabi Isa, dan Nabi
Muhammad Saw selalu menemui berbagai rintangan yang tak terkira dalam
menyampaikan misinya. Di setiap zaman, sesuai kondisi sosial yang
dinamis, Tuhan memilih utusan-Nya untuk menjadi penyeru manusia kepada
kebenaran. Isa adalah Nabi yang sudah lahir sejak 2.000 tahun lalu untuk
menyelamatkan Bani Israil di bawah bimbingan dan ajarannya.
Hari Natal sudah tiba. Masyarakat pencinta Isa al-Masih sudah lama
mempersiapkan diri untuk menyambut hari yang penuh kebahagiaan ini. Akan
tetapi, penindasan dan penderitaan umat manusia telah membuat suasana
Natal tidak begitu menggembirakan. Kejahatan dan perang telah merusak
kehormatan dan harga diri manusia. Dalam situasi seperti sekarang ini,
manusia sangat merindukan kedatangan sang juru selamat. Hari kelahiran
Nabi Isa as adalah hari untuk mengenang hal penting ini. Manusia
sekarang harus belajar dari ajaran-ajaran suci para nabi supaya bisa
menegakkan perdamaian dan keadilan di tengah masyarakat.
Kehidupan Nabi Isa as sejak lahir hingga wafatnya selalu disertai
mukjizat dan keberkahan. Ketika dalam buaian suci ibunya, ia sudah
bersaksi dan membela kesucian sang ibunda. Kelahiran Nabi Isa as yang
tanpa ayah dan mukjizat-mukjizat lain yang menyertainya, telah
memunculkan sejumlah pertanyaan. Sebagian beranggapan bahwa Isa adalah
bukan manusia. Namun, al-Quran membantah keras pemikiran batil ini.
Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 59 berfirman,
"Sesungguhnya
perumpamaan Isa di sisi Allah adalah sama seperti Adam, ia diciptakan
dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya, jadilah kamu, maka
jadilah ia."
Nabi Isa as hidup di masa yang penuh
dengan kezaliman dan penindasan. Sebuah kondisi yang menuntut hadirnya
seorang pemimpin dari langit yang mampu mereformasi masyarakat dan
menyelamatkan mereka dari penyimpangan dan kerusakan. Nabi Isa as telah
mengumumkan misinya dan senantiasa menyeru manusia untuk bertakwa dan
menyembah Allah Swt. Ia melakukan pengorbanan besar demi menyelamatkan
Bani Israil dan memusnahkan akar-akar penyimpangan mereka. Dalam sebuah
pesannya kepada Bani Israil, Nabi Isa as berkata,
"Hai Bani Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang
mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka."
Nabi
Isa as adalah penolong kaum tertindas dan selalu mengasihi kelompok
yang tak berdaya ini. Isa mengatakan bahwa siapapun yang memiliki
kemampuan untuk mencegah kezaliman tapi tidak berbuat sesuatu, ia
digolongkan seperti orang yang zalim juga. Di usia 30 tahun, Tuhan
menurunkan wahyu kepada Isa dan secara resmi Tuhan mengangkatnya sebagai
Nabi dan kitab Injil pun diturunkan kepadanya. Nabi Isa as berkeliling
ke setiap pelosok desa dan kota untuk memberantas para penyihir dan
rahib-rahib Yahudi yang menyimpang, sekaligus memberi nasehat kepada
para pengikutnya.
Di mana saja berada, Nabi Isa as
selalu membawa keberkahan. Kalau ia berada di sebuah tempat yang kering,
di sana akan turun hujan. Kalau ia berada di sebuah tempat yang hasil
panennya kurang, tempat itu akan menumbuhkan hasil-hasil yang melimpah.
Kadang-kadang, bayi yang lahir dalam keadaan buta, bisa melihat di
tangan Nabi Isa as. Ia juga bisa menyembuhkan penyakit yang susah
disembuhkan. Al-Quran juga menyebut mukjizat Isa berupa turunnya
makanan dari langit.
"(Ingatlah) ketika
pengikut-pengikut Isa berkata, ‘Hai Isa putra Maryam, maukah Tuhanmu
menurunkan hidangan dari langit kepada kami?' Isa menjawab, ‘Bertakwalah
kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata,
‘Kami ingin memakan hidangan itu. Kami ingin hati kami tentram dan
yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami. Kami ingin menjadi
orang-orang yang bersaksi. Isa bin Maryam berdo'a, "Ya Allah,
turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang hari turunnya itu
akan menjadi hari raya bagi kami, orang-orang yang bersama kami, dan
orang-orang yang datang sesudah kami, sehingga itu semua menjadi tanda
kekuasaan-Mu. Sesungguhnya, Engkaulah pemberi rizki yang paling utama."
(QS: Al-Maidah: 112 –115)
Tuhan kemudian mengabulkan doa Isa dengan cara menurunkan hidangan dari langit. Isa sekali lagi menunjukkan mukjizatnya.
Masyarakat Yahudi dan para tokoh yang cinta dunia tidak mau menerima
kata-kata Nabi Isa as. Mereka malah menyiksanya. Akibat tekanan dan
siksaan ini, akhirnya Nabi Isa as dan para pengikutnya lari dari satu
kota ke kota lain. Di saat yang sama, ia terus melanjutkan perjuangannya
membimbing manusia ke jalan yang benar. Nabi Isa as merupakan hamba
yang saleh dan mulia. Ia juga memberi kabar gembira tentang datangnya
seorang nabi di akhir zaman. Saat ini, dunia sangat membutuhkan lahirnya
sang juru selamat untuk menegakkan keadilan dan memerangi kebatilan di
muka bumi. Munculnya Imam Mahdi, penyelamat manusia dan kebangkitan
kembali Isa untuk memberantas dan menegakkan keadilan di dunia adalah
keyakinan kolektif yang memberi rasa optimis kepada masa depan umat
manusia.