Saya
orang Jawa, walaupun begitu saya tertarik sekali dengan asal-usul
bangsa Indonesia dan keislamannya, berangkat dari situ saya melakukan
literatur research pada wilayah Aceh dan Jawa. Pada akhir penelitian
saya dapatkan kesimpulan bahwa yang pertamakali mengislamkan pribumi
Nusantara adalah kaum muslimin keturunan Rasulullah yang bermazhab
syiah. Suku-suku Pribumi Nusantara yang Islam atau yang telah memiliki
tradisi Islam yang lama, seperti Aceh, Banjar, Makasar, Jawa, Sunda,
Minang, Gorontalo, Lombok, Palembang, Kutai, Lampung, Ternate, dan
daerah-daerah lain yang telah memiliki tradisi Islam yang lama
sebenarnya merupakan orang-orang yang moyang mereka adalah keturunan
Rasulullah yang bermazhab Syiah yang pertamakali mendarat di Nusantara
di Aceh
Sebenarnya saya sudah susun hasil penelitian ini menjadi
sebuah buku, saya ingin sekali menerbitkannya. Akan tetapi kendalanya
kemudian muncul disini. banyak penerbit yang khawatir dengan kontroversi
yang ditimbulkan dari tulisan saya. terutama kekhawatiran mereka dengan
tulisan saya yang mengetengahkan bahwa asal-usul nenek moyang kita
adalah keturunan Rasulullah yang bermazhab Syiah dan bahwa orang Syiah
lah yang mengislamkan penduduk Nusantara di Aceh dan Jawa untuk
pertamakalinya. Hal ini akan mengganggu ketenangan para penganut islam
mainstream (ahlus sunnah), apalagi penganut wahabi dan demikian pula
ketenangan para habaib, yang mana sementara ini para habib-lah yang
merasa bahwa mereka adalah satu-satunya kelompok yang merupakan
keturunan Rasulullah di Nusantara.
Penelitian saya mengambil
metode arkeologis dan antropologi sejarah. pokok inti permasalahan yang
menghasilkan kesimpulan diakhir penelitian yang saya ambil berawal dari
fakta-fakta yang seharusnya akan sudah sejak dahulu menggelitik rasa
penasaran para ahli sejarah Nusantara jika mereka mau membuka mata
pikiran dan mata hatinya. diantara fakta-fakta yang menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Sejarah kisah Perlak Pesisir yang Syiah, kenapa tidak terekspos secara luas?
2) Kisah Perlak Pesisir dan Perlak Pedalaman serta serangan Sriwijaya ke kedua Perlak
3) Mengapa Penduduk Tapanuli Utara (orang-orang Batak) tidak menganut agama Islam?
4)
Mengapa Islam di Pulau Sumatera Selain Aceh (Aceh telah Islam terlebih
dahulu) masuk melalui arah selatan (melalui/ berasal dari Jawa)?
5)
sebabnya orang-orang Batak tidak memeluk Islam adalah karena dakwah
Perlak Pedalaman (yang Sunni) ke arah wilayah-wilayah disebelah selatan
Aceh atau wilayah-wilayah sebelah selatan pulau Sumatera mengalami
kemacetan, mengapa mengalami kemacetan?
6) Benarkah penduduk Nusantara sebelum masuknya Islam adalah penganut Hindu atau Budha?
7)
mengapa tempat-tempat peribadatan Hindu dan budha di pulau Jawa yang
sedemikian megahnya malah diabaikan dan tidak dipedulikan oleh
masyarakat Jawa?
8) Makam Fatimah Binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 1082 Masehi,
9) Makam Tralaya di Majapahit
6) kejanggalan-kejanggalan kisah kerajaan Demak versus Majapahit.
7)
Benarkah Walisanga adalah penyebar agama Islam di Pulau Jawa? mengapa
hampir tidak ada kisah khusus perjuangan mereka yang detail ketika
mengislamkan suatu penduduk di suatu daerah atau wilayah tertentu?
padahal tentunya kisah kesuksesan pengislaman suatu wilayah adalah kisah
keteladanan yang penting dan dapat menjadi dakwah di tempat yang lain
8) Benturan budaya dan akidah antara penduduk Pesisir Utara Pulau Jawa dengan Penduduk Pedalaman Pulau Jawa
9) Kerajaan Mataram Sufi/Irfani yang didirikan Panembahan Senopati di Pulau Jawa yang sangat bernuansa Syiah
Apabila
kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas maka
akan dapat kita menemukan fakta baru bahwa penduduk pribumi Nusantara
berasal-usul dari moyang mereka yang masih merupakan keturunan
Rasulullah Muhammad yang bermazhab Syiah dari Persia.
Pertamakali yang harus dibahas adalah pertanyaan pertama, yaitu kisah tentang kerajaan Perlak.
Kerajaan Perlak
Nama
Perlak berasal dari kata peureula, mengacu pada wilayah Aceh bagian
timur. Mengenai komunitas Persia atau Arab yang tinggal pertamakali di
daerah Nusantara diantaranya yang diberitakan oleh I-Tsing. I-Tsing
mengatakan bahwa ia menumpang kapal orang Persia ke wilayah Nusantara
pada tahun 672 Masehi. Pada tahun itu pelaut Persia sudah memeluk islam.
Sedangkan
G.B. Groneveldt yang menerjemahkan demografi penduduk Nusantara menurut
berita China pada masa dinasti T?ang, pada hikayat dinasti T?ang
tercerita bahwa di pantai sebelah barat Sumatera (Aceh atau Samudera)
telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa Ta-Shi.
Menurut
Ustaz M. Jamil Djamil seorang pakar sejarah Aceh, dalam pekan
kebudayaan Aceh yang pernah dilangsungkan di tahun 1959. Beliau
mengungkapkan bahwa islam telah masuk ke Peureula pada tahun 790 Masehi.
Sumber beliau dapatkan dari kitab Zubdatu?l Tawarikh karya Nurul-Haq
Al-Masyriqiyal-Duhlawy, dan kitab Idhahu?l Fi Mamlatatu?l Peureula karya
Abul-Ishaq Al-Makarany. Kemudian berdirinya sebuah kerajaan yang
berasal dari masyarakat muslim Peureula adalah pada tahun 840 Masehi.
Perlak atau Peureula adalah nama yang mengacu pada wilayah bagian timur
laut Aceh.
Suatu petunjuk tentang adanya suatu kerajaan di Banda Aceh
sekarang dan sekitarnya telah diperoleh dari suatu prasasti yang telah
dibuat oleh Rajendra Cola I di Tanjore (India Selatan) pada tahun 1030
Masehi. Di mana Rajendra Cola mengerahkan mempersiapkan pasukan
besar-besaran untuk menaklukan wilayah-wilayah Nusantara. Salah satu
tempat yang dalam prasasti adalah Ilmauridecam (Lamuri) yang diceritakan
telah menghunjamkan kehebatan pasukannya melawan pasukan Rajendra Cola
sehingga invader India ini harus mengerahkan seluruh pasukannya untuk
menaklukannya. Apabila berita ini kita konfrontir dengan nukilan buku:
?Early Muslim Traders in South East Asia? karya G.R. Tibbets yang
menceritakan riwayat dari Buzurgh tentang Lamuri yang lebih tua dari
prasasti Rajendra Cola I, yaitu tahun 955 Masehi. Maka dapat kita
simpulkan bahwa kerajaan Perlak dan kerajaan Lamuri berhubungan erat
dengan Persia.
Buzurgh seorang muslim Persia menceritakan bahwa dari
pantai Barus di sebelah barat Aceh terdapat jalan darat yang
menghubungkan Barus dengan Lamuri. Ia menceritakan bahwa orang-orang
Persia yang berlabuh atau kandas kapalnya di Barus akan selalu berusaha
ke Lamuri. Karena disana dapat diharapkan akan bertemu dengan
kawan-kawan senegara (Persia) dan supaya dapat diperoleh pengangkutan
untuk pulang ke kampung.
Perlak adalah kerajaan Islam yang
pertama di Nusantara. Sultan Alaidin Syed (sayyid) Maulana Abdul Aziz
Syah adalah rajanya yang pertama. Sebelum berdiri kerajaan Islam, daerah
Perlak dipimpin oleh orang yang masih keturunan dari Meurah Perlak
Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La. Lalu pada tahun 840, datanglah
rombongan kafilah Islam dari Persia. Tujuan mereka berdakwah agama Islam
di Perlak. Dengan segera para pemimpin dan masyarakat negeri Perlak pun
meninggalkan agama lama mereka (monotheisme rakyat lapisan bawah Elam)
untuk berpindah ke agama Islam. kemudian salah satu anggota kafilah dari
timur tengah yang masih merupakan keturunan Rasulullah bernama: Ali bin
Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik
dari Syahir Nuwi, raja negeri Perlak yang merupakan keturunan Persia.
Syahir Nuwi masih keturunan bangsawan Sassanid yang dahulu pada masa
sebelum kelahiran Islam adalah dinasti yang pernah memerintah kekaisaran
Persia. Dari pernikahan antara Ali Bin Muhammad dan adik dari Syahir
Nuwi, yaitu Makhdum Tansyuri ini lahirlah kemudian: Alaidin Syed
(Sayyid) Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerajaan Perlak. Sultan
mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi
Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan
istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo,
Perlak, Aceh Timur.
Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah
merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi?ah datang ke
Indonesia melalui para Syed (baca: Sayyid, merupakan orang yang masih
keturunan Rasulullah) dari Persia. Mereka masuk ke Nusantara dan
mengislamkan Kesultanan Perlak yang juga masih keturunan Persia/Arya.
Sampai
dengan pemerintahan Sultan kedua, aliran Islam Sunni belum memasuki
wilayah Nusantara. Baru pada masa Sultan yang ketiga: Sultan Alaiddin
Syed (Sayyid) Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Nusantara.
Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), kaum Islam Sunni
memberontak kepada Kesultanan Syiah Perlak. Terjadi perang saudara
antara kaum Syiah dan Sunni selama dua tahun. Kaum Syiah memenangkan
perang dan pada tahun 302 H (913 M), Sultan Alaiddin Syed (Sayyid)
Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir
pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang
kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni.
Pada masa Sultan ketujuh
Kerajaan Perlak masih merupakan kerajaan Islam mazhab Syiah. Kemudian
setelah meninggalnya Sultan ketujuh pada tahun 362 H (956 M),
penggantinya: Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan merupakan
seorang Sultan yang bermazhab Sunni. Sejak itu Perlak menjadi kerajaan
yang dipimpin oleh sultan-sultan yang bermazhab Sunni. Hal ini
menimbulkan peperangan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan
Sunni. Perang ini berakhir dengan perjanjian damai dan pembagian
kerajaan menjadi dua bagian, kerajaan Perlak Pesisir dan kerajaan Perlak
Pedalaman. Kerajaan Perlak Pesisir merupakan kerajaan Islam bermazhab
Syi?ah, dan dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed (Sayyid) Maulana Shah
(986 ? 988). Sedangkan kerajaan Perlak Pedalaman merupakan kerajaan
Islam bermazhab Sunni, dan dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik
Ibrahim Shah Johan (986 ? 1023).
Kemudian pada tahun 988, kerajaan
Sriwijaya menyerang Perlak. Peperangan ini menyatukan Perlak pesisir dan
pedalaman bersatu. Dalam pertempuran melawan Sriwijaya tersebut pasukan
Perlak yang dikerahkan untuk melawan Sriwijaya kebanyakan berasal dari
Perlak Pesisir. Bahkan rajanya sendiri yaitu Sultan Alaidin Sayyid
Maulana Syah terjun langsung ke dalam pertempuran. Akibat dari
pertempuran itu Sultan Alaidin Sayyid Maulana Syah gugur dalam
pertempuran. Bersamaan dengan itu pupuslah pula kerajaan Perlak Pesisir,
Sultan-sultan yang menguasai wilayah Aceh pada masa setelahnya
bermazhab Islam Sunni. Tapi pengorbanan kerajaan Perlak Pesisir dalam
peperangan melawan Sriwijaya tidak sia-sia. Sejak saat itu kerajaan
Sriwijaya menjadi lemah dan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk
menyerang Perlak. Walaupun kerajaan Perlak yang masih tersisa merupakan
kerajaan Islam yang bermazhab sunni akan tetapi bagi orang-orang Perlak
Pesisir hal tersebut tidak menjadi masalah. Yang terpenting bagi
orang-orang Perlak Pesisir adalah tegaknya kalimat syahadat di bumi
Perlak tanpa melihat perbedaan mazhab.
Dari uraian diatas menunjukkan
bahwa kesultanan Perlak yang terletak di Aceh berasal dari orang-orang
Persia yang belum memeluk Islam. Yaitu Meurah Perlak Syahir Nuwi dan
adiknya Makhdum Tansyuri. Makhdum Tansyuri kemudian dinikahkan dengan
Ali Bin Muhammad Ja?far Shadiq. Berarti Ali adalah ayah dari sultan
Perlak pertama. Dari namanya ayah Sultan Perlak pertama ini yaitu Ali
sudah menunjukkan bahwa dia penganut mazhab Ahlul Bayt dan juga besar
kemungkinan adalah keturunan nabi. Karena pemakaian nama itu pada
tahun-tahun itu di timur tengah bisa mendatangkan ancaman yang berasal
dari penguasa. Penganut sunni yang di timur tengah waktu itu adalah
pengikut Bani Abbas dan tidak akan menggunakan nama tersebut. Pengikut
sunni baru mulai menggunakan nama-nama bernuansa ahlulbayt setelah
runtuhnya kesultanan Bani Abbas pada tahun 1258. Selain bermazhab syiah
besar kemungkinan Ali ini juga keturunan nabi. Karena selain dia yang
menggunakan nama berbau syiah, ayahnya pun juga mempunyai nama yang
berbau syiah, nama ayahnya yaitu Muhammad Ja?far Shadiq. Keluarga Ali
menggunakan nama-nama bernuansa Syiah secara
terus-menerus/turun-temurun. Menunjukkan keberanian yang terjaga
terus-menerus. Pada masa itu selain penganut sunni, pengikut syiah yang
biasa-biasa saja juga tidak berani menggunakan nama-nama itu.
Hijrahnya Musafir Perlak Pesisir yang Bermazhab Islam Syiah ke Pulau Jawa.
Kemudian
timbul pertanyaan: ?Apakah akibat dari serangan Sriwijaya kepada
kerajaan Perlak yang menyebabkan hancurnya Perlak Pesisir tersebut
secara serta merta menyebabkan punahnya orang-orang syiah di Nusantara?
Menurut kami jawabannya adalah: "Tidak". Pada tesis sebelumnya
disimpulkan bahwa Islam pertamakali masuk ke Aceh baru kemudian Jawa,
dari Jawa baru kemudian Islam menyebar ke seluruh Nusantara. Aceh dan
Jawa adalah dua simpul yang terhubung langsung. Sedikit banyak makam
Fatimah Binti Maimun menunjukkan simpul itu. Makam itu bernuansa Persia,
sama dengan keadaan kerajaan Perlak yang dipimpin oleh orang keturunan
Persia. Nama Fatimah juga merupakan nama Perlak awal yang sangat
bernuansa mazhab Syiah pada masa itu. Pada masa itu nama tersebut
merupakan nama yang bermakna bahwa pemakai nama tersebut adalah seorang
muslimah yang menjadi penganut Islam mazhab Syiah. Orang yang selain
bermazhab Syiah tidak berani memakai nama itu. Maka suatu kemungkinan
sekali terdapat aliran migrasi dari Perlak ke Jawa. Oleh karena itu
kemungkinan sekali bahwa orang-orang Perlak yang bermigrasi ke Jawa
adalah orang Perlak pesisir, Perlak pesisir bermazhab Syiah. Bahkan di
Aceh sendiri secara jelas terlihat dari psikografi masyarakat Aceh pada
masa sekarang, Secara umum orang Aceh pada masa ini mempunyai bawaan
karakter yang rendah hati dan mengalah sebagai dua karakter yang paling
menonjol. Hal ini tidak menunjukkan adanya persamaan karakter antara
mereka dengan masyarakat Perlak Pedalaman pada masa dulu kala yang
bermazhab Sunni. Karakter rendah hati dan mengalah ini lebih sesuai
dengan fakta karakter yang dimiliki oleh Masyarakat Perlak Pesisir yang
bermazhab Syiah. Orang-orang Perlak Pedalaman yang Sunni yang kemudian
memberontak pada masyarakat Syiah Perlak bersatu yang dulunya hanya
bermazhab Syiah dengan cara kekerasan, padahal mereka datang ke Aceh
belakangan, jelas menunjukkan bahwa mereka (kaum Perlak Pedalaman yang
Sunni) tidak mempunyai sifat ini (sifat mengalah dan rendah hati). Dari
tesis ini dapat ditarik sintesis bahwa karakter dan moyang orang Aceh
saat ini bukanlah berasal-usul dari masyarakat Perlak Pedalaman yang
bermazhab Sunni tetapi berasal dari masyarakat Perlak Syiah yang pada
serangan Sriwijaya berusaha membela kedua kerajaan Perlak baik Sunni
maupun Syiah. Tentunya tidak semua kelompok besar Syiah yang dipukul
hancur oleh Sriwijaya berhasil hijrah ke Pulau Jawa. Ada diantra mereka
yang tetap tinggal di Aceh untuk membantu perlawanan terhadap masyarakat
Islam secara keseluruhan dari kemungkinan-kemungkinan serangan
Sriwijaya atau pihak-pihak yang beraliansi dengan Sriwijaya. Tentunya
masyarakat Syiah yang masih tinggal di Aceh/Perlak dan tidak ikut hijrah
terpaksa harus beradaptasi dengan masyarakat Islam Sunni. Pada masa
yang lama mereka berangsur-angsur membaur pada masyarakat Perlak
Pedalaman yang Sunni yang setelah perang melawan Sriwijaya kemudian
menjadi mazhab Islam yang dominan. Hal ini kelamaan menggerus keyakinan
mereka (masyarakat Syiah) melalui pemaksaan, perkawinan atau yang
lainnya, hal ini akhirnya yang membuat mereka kehilangan keyakinan awal
mereka yang Syiah. Hal ini pula yang menjelaskan dari mana asal-usul
sifat mengalah masyarakat Aceh berasal. Mereka bahkan mengalah dalam hal
keyakinan mazhab demi suatu hal yang lebih penting lagi. Seperti telah
diurai diatas mengenai geopolitik Perlak yang mana Perlak pedalaman
dikuasai Islam mazhab Sunni. Sedangkan dakwah mazhab Sunni ke arah
selatan wilayah yang dihuni oleh orang-orang selatan pulau Sumatera
mengalami kemacetan. Macetnya dakwah Sunni ke arah selatan pulau
Sumatera secara otomastis menyebabkan perkembangan Perlak pedalaman
macet dan akibatnya dakwah perluasan Perlak pesisir ke selatan juga
menjadi macet. Oleh karena itu kemungkinan besar bahwa orang-orang
Perlak yang masuk ke Jawa adalah orang-orang Perlak pesisir yang
kemudian memutuskan untuk mengambil jalan laut menuju daerah baru. Oleh
karena hal ini maka terdapat kemungkinan kuat orang-orang yang
mengislamkan penduduk Jawa untuk pertamakali adalah orang-orang Islam
yang bermazhab Syiah. Uraian-uraian pada sejarah Islam masuk ke Jawa
pada pembahasan sejarah Demak dan Mataram di bawah ini sedikit banyak
berusaha mengungkap keadaan masyarakat di Jawa yang kemungkinan sekali
adalah masyarakat syiah.
ISLAM DI TANAH JAWA
Majapahit, Demak dan Mataram
Pada
pembahasan sebelumnya sedikit-banyak telah diuraikan bahwa kaum
pelarian Perlak Pesisir setelah perang dengan Sriwijaya kemudian hijrah
ke pulau Jawa. Dinamika kehidupan mereka setelah sampai di pulau Jawa
sangat penting untuk diuraikan melalui analisa menurut antropologi
budaya karena merupakan fragmen sejarah yang membentuk peradaban dan
sikap pada umumnya masyarakat Jawa. Untuk memulai pembahasan sejarah
kehidupan masyarakat Jawa pada masa peralihan Majapahit-Demak menurut
sudut pandang antropologi budaya maka akan dimulai dengan fakta-fakta
yang telah ada dalam sejarah umum populer. Maka analisa akan dimulai
dari masyarakat Jawa pada jaman Demak dan Majapahit. Dengan analisa
melalui sudut pandang antropologi budaya masyarakat ini diharapkan akan
memunculkan alternatif tafsiran baru akan pembacaan fakta sejarah
Nusantara di Jawa yang ada, khususnya berkenaan dengan dinamika sejarah
Majapahit dan Demak, serta perpindahan keyakinan masyarakatnya dari
Hindu ke Islam. Demak merupakan kerajaan Islam pertama di
Nusantara-Jawa. Hal ini memang benar adanya. Tapi ada pula ditemukan
riwayat yang simpang siur bila akan mengungkap fakta awal sejarah
pendirian kerajaan ini. Terdapat tiga sumber berita utama mengenai
Demak, yaitu berita dari babad tanah jawi, berita China, berita orang
barat yang meliputi Suma Orientalnya Tomy Pires dan berita Portugis. Di
antara berbagai sumber itu berita China dan babad tanah jawi banyak
memiliki kemiripan. Yang jelas dua sumber berita yaitu berita China dan
babad tanah jawi mengungkapkan bahwa antara pendiri Demak dan penguasa
Majapahit terdapat hubungan kekerabatan, tapi kedua sumber berita juga
mengungkapkan adanya perang antara Demak dan Majapahit. Perang dimulai
dengan Demak yang menyerang kerajaan Majapahit. Kedua sumber berita juga
mengungkapkan kekalahan Majapahit dalam perang itu. Suatu hal yang
sangat aneh apabila tidak ada penjelasan dari sudut pandang antropologi
masyarakat, adalah bahwa kerajaan Demak berani menyerang Majapahit hanya
satu tahun lebih setelah berdirinya kerajaan itu! dalam serangannya ini
pun kerajaan Demak langsung mengalami kemenangan! Memang terdapat
pendapat yang menyatakan bahwa kerajaan Majapahit pada masa itu telah
mengalami kemunduran. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah sebab
kemundurannya. Pada suatu bangsa yang menganut sistem pemerintahan
kerajaan, kemajuan atau kemunduran kerajaan tersebut tergantung pada
dukungan rakyat. Oleh karena itu sering terjadi fenomena pada
sejarah-sejarah kerajaan, bahwa suatu kerajaan secara mendadak menjadi
kerajaan yang besar, atau suatu kerajaan secara mendadak mengalami
kemerosotan. Hal ini bisa terjadi tergantung pada adanya seorang
pemimpin yang cakap atau tidak. Apabila seorang pemimpin didukung oleh
rakyatnya maka kerajaan tersebut kuat. Kecakapan seorang pemimpin atau
raja adalah kemampuannya dalam mengaspirasi kehendak rakyatnya. Oleh
karena itu kemunduran kerajaan Majapahit di masa menjelang akhir
riwayatnya disebabkan oleh lemahnya dukungan rakyat di Nusantara Jawa
ketika kerajaan Hindu tersebut diserang Demak. Pola yang dialami
Majapahit ini dalam sejarah Jawa kuno tidak dialami oleh
kerajaan-kerajaan Hindu sebelumnya. Kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa
sejak dari Mataram kuno oleh wangsa Sanjaya, wangsa Syailendra, kerajaan
Medang Kamulan, Daha, Kahuripan, Singasari, yang berakhir riwayatnya
tidak melalui peperangan atau serangan dari luar (faktor eksternal).
Kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha sebelum Majapahit runtuh atau
berganti nama kerajaan dan letak pemerintahannya karena adanya konflik
internal, perebutan kekuasaan, pembagian kerajaan dan hal-hal sejenis.
Kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha di Jawa sebelum Majapahit terbukti
mampu melawan serangan dari luar, seperti sikap bermusuhan dari kerajaan
besar seperti Sriwijaya atau serangan dari tentara Mongol pimpinan
Kubilai Khan. Fenomena ini bisa terjadi apabila pemimpin
kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha Jawa pada masa itu tidak mendapatkan
hambatan dari rakyat ketika melawan aggresor asing yang sama-sama
non-muslim seperti ketika mereka menghadapi serangan dari Sriwijaya yang
berkeyakinan Budha dan Mongol yang berkeyakinan pagan. Namun ketika
melawan serangan luar dari kerajaan Islam seperti Demak yang baru
berumur satu tahun, kerajaan Majapahit dengan segera mengalami
keruntuhan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pertentangan antara kerajaan
Hindu dan kerajaan Islam ini, rakyat di pulau Jawa tidak terlalu ambil
perhatian memikirkan kelangsungan hidup kerajaan Hindu Majapahit.
Apabila rakyat masih berkeyakinan Hindu, mereka pasti akan merasa
terancam oleh serangan kerajaan Demak kepada kerajaan Majapahit, dan
dengan segera melupakan segala konflik diantara mereka bila ada, untuk
segera saling bahu-membahu dengan penguasa mereka melawan aggresor
asing. Upaya untuk menguak kejadian sebenarnya dari fakta sejarah yang
sangat terbatas, maka akan dicoba dengan mengkonfrontir antar fakta
sejarah. Selain itu diupayakan untuk menemukan suatu konsep yang tidak
bertentangan dengan segala fakta. Juga metode untuk menemukan konsep
tersebut. Karena keterbatasan riwayat maka konsep yang dipakai adalah
informasi tentang antropologi dan keadaan kesadaran masyarakat jaman
itu.
Berkaitan
dengan hubungan Demak dan Majapahit maka simpul antropologi yang
terpenting adalah fakta interaksi antar dua keyakinan, yaitu hubungan
antara peradaban Islam dan peradaban Hindu pada masyarakat di pulau Jawa
pada masa itu.
Untuk itu maka yang akan dijadikan simpul utama
antropologi adalah fakta arkeologi shahih, seperti misalnya artefak
arkeologi tentang makam Tralaya; yaitu pemakaman Islam di jantung
Majapahit yang berangka tahun 1307 Masehi. Angka tahun pada nisan makam
menunjukkan bahwa Islam bisa eksis di Jawa pada saat penguasanya yang
Hindu yaitu Majapahit sedang berada di masa kejayaannya. Jumlah nisan
makam orang Islam disitu cukup banyak. Selain itu penduduk Majapahit
juga menggunakan mata uang yang bertuliskan simbol-simbol Islam diantara
mata uang-mata uang lainnya. Berdasar fakta itu terbentuk hipotesa
bahwa penduduk Islam Jawa telah masuk wilayah pedalaman, telah tinggal
di kawasan pusat pemerintahan, mampu beradaptasi dengan penguasa Hindu
dan terlibat dengan kehidupan bernegara.
Menjelang runtuhnya
Majapahit tidak terdeteksi adanya proses pengislaman terhadap masyarakat
Jawa oleh para mubaligh Islam. Oleh karena kemungkinan sekali mayoritas
penduduk Majapahit telah memeluk Islam menjelang keruntuhan Negara itu.
Serangan Demak kepada Majapahit menjelang keruntuhannya itu sebenarnya
tidak produktif bila benar rakyat Majapahit masih menganut agama Hindu.
apabila dilihat dari segi politik dakwah Islamiyyah (jika benar Demak
menyerang Majapahit untuk tujuan dakwah), serangan Demak di Jawa kepada
Majapahit justru dapat membangkitkan semangat perlawanan orang-orang
Hindu (jika benar rakyat Jawa pada saat itu masih beragama Hindu) kepada
penyebaran Islam. Tapi situasi ini tidak terjadi di Nusantara Jawa pada
jaman Majapahit. Masyarakat Hindu Nusantara tidak teriwayatkan kemudian
membalas serangan muslim pada masa-masa sesudah hancurnya Majapahit
dengan suatu gerakan bawah tanah apapun, baik militer maupun sosial
politik. Bahkan agama Hindu setelah itu tidak tedeteksi lagi di pulau
Jawa, seolah lenyap di telan bumi! Hal ini menandakan terdapat suatu
kemungkinan besar bahwa masyarakat Jawa sudah hampir menjadi muslim
semuanya pada saat itu.
Kita bisa membandingkannya dengan situasi di
belahan bumi lain di wilayah yang terdapat interaksi antara Islam dan
Hindu, seperti di India misalnya. Yaitu di masa Mughal India ketika
dipegang oleh Aurangzeb. Pada masa itu Aurangzeb memaksakan kehendaknya
dan bertindak keras terhadap pemeluk Hindu. Akibat dari tindakannya itu
potensi dakwah Islam kepada masyarakat Hindu India menjadi benar-benar
semakin sempit. Rakyat Hindu India kemudian memboikot ajaran Islam dari
segala sisi kehidupan. Tapi Demak yang merupakan representasi Islam di
Jawa tidak mengalami seperti yang dialami Mughal dengan Aurangzeb
sebagai pemimpinnya pada masa-masa setelahnya. Padahal Demak juga
melakukan tindakan keras pada Majapahit yang merupakan representasi
Hindu.
Sejarah perkembangan Islam dilihat secara keseluruhan sejak
dari masa Rasulullah sampai sekarang tampak bahwa perkembangan atau
perluasan kekuasaan Islam dengan pendekatan militer akan menyisakan
sedikit peninggalan riak-riak konflik dimasa depan. Kemelut yang terjadi
antara lain konflik antara penduduk yang dulunya bukan penganut Islam
dengan penguasa Islam. Atau konflik antara Negara tetangga wilayah
perluasan Islam dengan daerah Islam yang baru. Tercatat ketika
Konstantinopel berhasil ditaklukan pasukan muslim, maka pada masa-masa
setelahnya terdapat rongrongan terhadap kekuasaan Islam Turki yang
dikomandoi oleh Vlad, dibutuhkan tenaga dan kesabaran untuk menumpasnya.
Demikian pula Andalusia selalu dirongrong oleh tetangganya yang
Nasrani. Bahkan jika dilihat secara keseluruhan maka perebutan sebagian
besar wilayah Romawi oleh Islam yang meliputi Afrika Utara, Syam dan
Eurasia sampai sekarang masih menyisakan jejak konflik. Yaitu
perseteruan urat syaraf yang tak kentara antara dunia barat dan dunia
Islam.
Dunia barat modern sekarang ini dapat dibilang merupakan
reinkarnasi kekaisaran Romawi yang pada jaman dahulu diruntuhkan
kebesarannya oleh Islam. Pola ini terjadi dimana saja peradaban Islam
berinteraksi dengan peradaban non-Islam, yaitu jika menggunakan
pendekatan militer, maka pada waktu di masa depan akan menyisakan jejak
konflik. Hal itu menimpa dinasti Mughal, dinasti Turki Usmani, Andalusia
dan yang lainnya. Hal ini juga terjadi di Persia pada masa awal
penaklukannya. Bahkan khalifah Umar dibunuh oleh seorang Persia. Persia
akhirnya berhasil memantapkan diri sebagai kekuatan Islam tapi hal ini
terjadi setelah sebagian besar penduduknya pada abad ke 9 beralih
menjadi pemeluk Syiah. Suatu mazhab Islam yang notabene lebih dimusuhi
lagi oleh penguasa Islam di timur tengah pada saat itu daripada
musuh-musuhnya yang lain, bahkan musuh-musuhnya yang non-muslim
sekalipun.
Dalam perang-perangnya, Rasulullah tidak pernah memulai
suatu serangan kepada pihak musuh. Apabila beliau menyerang musuh Islam
maka dapat dipastikan bahwa pada masa sebelumnya musuh tersebut pernah
secara nyata merugikan kaum muslimin atau merugikan dakwah Islam. Hal
ini menyebabkan menjelang beliau wafat, Islam telah sukses dipeluk
masyarakat di seluruh jazirah Arab.
Apabila pola alasan umum
peradaban Islam di dunia dalam melancarkan serangan kepada pihak asing
adalah seperti yang telah diuraikan diatas. Lalu untuk apakah tujuan
yang sebenarnya dari kerajaan Islam Demak menyerang Majapahit? Sejarah
tidak menunjukkan adanya persinggungan antara umat Hindu dan Islam
sebelum kelahiran kerajaan Demak. Sepertinya sangat sukar dipercaya jika
tujuan Demak menyerang Majapahit adalah dakwah Islam kepada masyarakat
Majapahit yang masih memeluk Hindu. Jika benar melalui jalan kekerasan
maka lebih besar kemungkinannya bahwa rakyat Nusantara yang berkeyakinan
Hindu akan memboikot, sehingg dakwah Islam akan mengalami kemacetan
seperti yang dialami Aurangzeb. Situasi dakwah dengan kekerasan selalu
tindak membuahkan hasil di pulau Jawa, masa penjajahan Belanda
menunjukkan hal itu. Walaupun Belanda sudah ratusan tahun menduduki
pulau Jawa, akan tetapi penduduknya tetap saja memeluk Islam sampai
sekarang. Oleh karena itu keberanian penguasa Demak ketika memutuskan
untuk menyerang Majapahit sedikit banyak menunjukkan bahwa rakyat Jawa
sudah Islam di masa itu.
Serangan Demak ke Majapahit kemungkinan
sekali bukan karena dakwah Islam kepada masyarakat Hindu Jawa. Akan
tetapi ?dakwah lain? dengan sasaran ditujukan kepada ?keyakinan lain?
Diskusi tentang masuknya Islam di Nusantara maka situasi perkembangan
Islam yang terjadi di Jawa tentunya memiliki keterkaitan dengan sejarah
sebelumnya yang terjadi di Aceh (Perlak). Sedikit banyak sejarah Perlak
telah mencantumkan adanya konflik internal sesama muslim beda mazhab
pada wilayah kepemimpinan kerajaan tersebut. Konflik sesama Islam beda
mazhab ini pula kemungkinan besar fenomena yang ?mengikuti? orang-orang
Perlak yang hijrah ke Jawa, berupa ?interaksi? antara Demak dengan
penduduk Jawa. Apabila hal diatas merupakan peristiwa yang sebenarnya
maka pola di Nusantara akan sesuai dengan berbagi pola penyebaran Islam
lainnya di belahan lain dunia.
Dinamika Sosial-Politik yg Terjadi di Jawa Stelah Kaum Islam Syiah masuk ke pulau itu
Dari
sudut pandang psikologi para musafir Perlak, kita dapat menyelami atau
membayangkan kesadaran mereka ketika hendak berhijrah ke Jawa. Apabila
kehidupan awal mereka diselami akan didapat sedikit gambaran suatu
keadaan yang sesuai dengan situasi sosial politik masyarakat di Jawa
pada abad ke 11. Setelah hijrah ke pulau Jawa, pastilah para musafir
Perlak ini hendak memantapkan posisinya di tempat yang baru supaya tidak
terulang lagi konflik horizontal antara mereka sendiri (kaum Islam
Syiah) dengan kaum Islam Sunni (yang pastinya di masa depan nanti akan
menyusul mereka lagi), seperti sebelumnya, yang menyebabkan mereka harus
meninggalkan tempat asal. Mereka tidak mau terperosok ke lubang yang
sama dua kali.
Jelas bahwa perpindahan para musafir dari Perlak
Pesisir yang hijrah ke Jawa disebabkan karena tidak berkembangnya lagi
sumber-sumber penopang hidup mereka di tempat asalkarena sebab luar,
atau karena perang. Praktis setelah wilayah pedalaman dikuasai muslim
Sunni, potensi perkembangan wilayah mereka melalui jalur darat terhenti,
sementara mereka juga memahami bahwa wilayah di Nusantara yang potensi
menjadi sasaran dakwah masih terbentang luas. Selain itu dengan
dikuasainya pedalaman oleh Perlak Sunni yang mempunyai akses ke
daerah-daerah penghasil beras di selatan Sumatera, maka orang-orang
Perlak Pesisir jadi tergantung sumber penghidupannya kepada orang-orang
Perlak Pedalaman. Terutama ketergantungan mereka pada bahan makanan
pokok pada masyarakat Perlak Pedalaman. Walaupun hasil perdagangan dari
menguasai wilayah pesisir lebih tinggi, tapi untuk hidup orang tetap
butuh makanan pokok. Upaya mereka menuju Jawa dan bukannya ke daerah
Nusantara yang lain juga menunjukkan bahwa wilayah sasaran perpindahan
mereka adalah daerah sumber penghasil bahan makanan pokok. Minimal
mereka pasti berpikir bahwa kesinambungan dakwah penyebaran Islam ini
dapat dicapai jika support sumber penopang kehidupannya terjamin.
Oleh
karena itu seperti pepatah: ?Tidak akan terperosok ke lubang yang sama
dua kali,? berlaku bagi para keturunan musafir Perlak Pesisir yang
hijrah ke pulau Jawa. Setelah menetap di pulau tersebut, mereka ini
tidak puas dengan mengelola wilayah pantai dan hanya mempunyai sebatas
hubungan administrative (upeti) dengan penguasa yang lebih dahulu eksis
di daerah tersebut (pada situasi lama di Perlak adalah hubungan mereka
dengan Sriwijaya). Tapi ketika dulu masih di Perlak, barangkali tujuan
mereka hanya lebih menguasai wilayah pesisir karena mereka juga
mempertimbangkan masih adanya kemungkinan mereka akan menempuh jalur
darat menuju Jawa. Jadi hijrah mereka ke Jawa merupakan suatu strategi
jangka panjang. Hal ini juga suatu hal yang sangat mungkin. Tapi
kedatangan audara mereka Sunni membuyarkan hal itu. Tapi saat ini mereka
sudah sampai juga ke pulau Jawa dengan kondisi yang lain, yaitu sebagai
musafir yang hijrah karena suatu masalah di tempat asal. Kemudian
setelah sampai di Jawa para musafir Perlak melihat bahwa pulau tersebut
merupakan ujung dunia, mereka tidak bisa pindah kemana-mana lagi. Maka
pastilah kemudian mereka mengalihkan strategi dengan merubah diri dengan
menjadi masyarakat agraris untuk memantapkan posisinya lebih permanen
di pulau Jawa. Skenario ini suatu hal yang sangat mungkin terjadi.
Dalam
berinteraksi dengan penguasa Jawa (Majapahit) sebagai daerah tujuan
baru, para musafir Perlak berupaya terlibat lebih dalam penyelenggaraan
negara. Mereka juga menyesuaikan diri dengan pola kerajaan Majapahit
yang agraris dengan berupaya mendapatkan daerah-daerah subur di
pedalaman. Mereka paham bahwa menguasai sumber penopang penghidupan
berarti kelangsungan tujuan serta ketahanan menghadapi pihak yang
mengancam misi-misi mereka. Pola hidup lebih teratur dan disiplin
sebagai syarat kesuksesan masyarakat agraris juga harus segera mereka
kondisikan. bermasyarakat yang lebih komunal, kerjasama dan gotong
royong harus lebih mereka upayakan.
Selain membaharui pola hidup dan
sumber mata pencaharian, juga memperbaharui strategi hubungan mereka
ketika berinteraksi dengan pihak lain. Pada awalnya di Perlak hubungan
imbal balik strategi dan politik perdagangan merupakan dasar dari pola
hubungan mereka dengan pihak lain. Setelah berada di Jawa yang agraris,
mereka paham bahwa frekuensi hubungan sosial antar segmen dan elemen
masyarakat akan lebih intens, kemampuan sosial, diplomasi dan politik
lebih ditingkatkan. Secara otomatis hal ini akan meningkatkan kepekaan
antar manusia diantara mereka. Sifat tenggang rasa, empati dan toleransi
dengan cepat segera mereka miliki. Sepertinya para musafir Perlak di
Jawa berhasil menguasainya, jejak-jejak peninggalan arkeologi Islam yang
banyak terdapat di pusat Majapahit ketika berhasil mencapai masa
keemasan membuktikan hal itu.
Kelompok musafir Perlak pesisir yang
hijrah ke Jawa juga mengubah kebijakan politiknya. Waktu masih di Perlak
mereka mendirikan kerajaan secara otonom atau mandiri tapi masih berada
di bawah kemaharajaan Sriwijaya. Ketika hubungan antara mereka dengan
Sriwijaya harmonis maka keamanan Perlak akan terjamin. Tapi ternyata
mereka tidak bisa memastikan bahwa hubungan mereka dengan penguasa
Sriwijaya akan baik terus. Setelah Sunni masuk ke Perlak dan memecah
Perlak menjadi dua; pedalaman dan pesisir, mereka tidak bisa mengontrol
kebijakan daerah pedalaman lagi. Ketika Sriwijaya mungkin menganggap
Perlak pedalaman sebagai ancaman dan menyerangnya. Mereka tidak bisa
mencegah kerusakan hubungan ini. Hal ini menyebabkan mereka terpaksa
juga harus melibatkan diri dalam peperangan untuk membantu kerajaan
Perlak Pedalaman. Karena mereka sesama muslim dan bagaimanapun harus
saling membantu. Pastinya Sriwijaya tidak akan ambil pusing bahwa Perlak
sebenarnya telah pecah dan mereka adalah orang-orang Perlak Pesisir
yang dulu mampu menjalin hubungan baik dengan Sriwijaya. Sriwijaya akan
tetap menyerang Perlak secara keseluruhan, baik pedalaman maupun
pesisir. Peristiwa serangan Sriwijaya ini menyebabkan kehancuran Perlak
Pesisir. Orang-orang Perlak Pesisir sebagai pihak yang membela
saudaranya dengan mengorbankan segalanya termasuk jiwa Sultannya, yaitu
Sultan Maulana Syah yang gugur dalam pertempuran melawan Sriwijaya.
Pengalaman
masa lalu itu membuat mereka merasa bahwa mendirikan kerajaan di tempat
baru yang sudah ada penguasanya bukanlah suatu tindakan efektif.
Apabila mereka mendirikan kerajaan di tempat baru (Jawa), sementara di
wilayah tersebut juga masih berdiri kerajaan non-muslim yang kuat
(kerajaan yang kuat bermakna bahwa kerajaan tersebut mendapatkan
dukungan rakyatnya), maka nanti apabila terjadi suatu konflik diantara
mereka dengan kerajaan lama dan terjadi perang, maka mereka akan musnah
oleh serangan Non-Muslim, seperti kasus yang telah terjadi di Perlak.
Para musafir Perlak memahami bahwa mereka sebagai penganut syiah memang
mempunyai kemampuan adaptasi dengan penguasa yang berlainan keyakinannya
dengan mereka. Ketika di timur tengah, moyang mereka terbiasa hidup
dibawah penguasa yang sangat memusuhi mereka. Hal ini membentuk
kemampuan adaptasi yang luar biasa hidup berdampingan dengan penguasa
memusuhi mereka. Kemampuan ini diturunkan pada anak keturunannya. Akan
tetapi keadaan para musafir Perlak syiah di Nusantara ini lain dengan
situasi moyang mereka dahulu di timur tengah. Di timur tengah moyang
mereka menghadapi penguasa yang sesame muslim, walaupun permusuhannya
kepada mereka terkadang lebih sengit daripada pemusuhan yang ditunjukkan
oleh non-muslim sekalipun, akan tetapi mereka sesama pengikrar
syahadat, dan harus tetap menjaga kehormatan dan keselamatan sesama
muslim. Oleh karena itu mereka lebih sering melancarkan gerakan
taqiyyah, suatu gerakan menjauhi benturan dan konflik kalau perlu dengan
cara menyembunyikan keyakinannya.
Berbeda dengan keadaan di Timur
Tengah dimana kaum syiah kedudukannya jauh lebih lemah, di Nusantara
kaum musafir Perlak Pesisir yang bermazhab syiah mempunyai cukup
kekuatan sehingga dapat mengimbangi dan hidup berdampingan dengan
saudaranya sunni, dan mereka tidak perlu melakukan taqiyyah. Hal inilah
yang terjadi di Perlak. Akan tetapi tidak seperti keadaan di Timur
Tengah, di Nusantara terdapat pihak ketiga, yaitu penguasa non-muslim
seperti kerajaan Sriwijaya yang kedudukannya kuat, sedangkan di Timur
Tengah pihak ketiga yaitu kaum non-muslim yang menjadi pesaing Daulah
Islamiyah kedudukannya lebih lemah.
Kaum
Islam Syiah Perlak Pesisir akan berusaha selalu mampu menjaga supaya
tidak terjadi benturan dengan Sriwijaya yang lebih kuat ketika mereka
masih sendirian. Akan tetapi ketika saudaranya kaum Islam Sunni mulai
datang ke wilayah Perlak mereka tidak mampu menjaga hubungan harmonis
dengan Sriwijaya lagi. Akibatnya mereka mengalami kehancuran ketika
membela saudaranya kaum muslimin Sunni supaya tetap utuh.
Hal inilah
yang menyebabkan para musafir kaum Islam Syiah Perlak Pesisir enggan
mendirikan kerajaan lagi di pulau Jawa. Mereka lebih memilih berdakwah
secara non-formal dan damai dibawah kekuasaan penguasa Majapahit. Mereka
yakin akan potensinya untuk menyebarkan agama Islam secara damai di
pulau Jawa, karena sebelumnya mereka terbukti berhasil berdakwah secara
terbuka dan damai di masa lalu kepada kaum Non-muslim di Perlak. Para
musafir Perlak Pesisir tidak berusaha menyaingi atau menumbangkan
kerajaan Majapahit, bahkan berusaha turut berpartisipasi di dalam
kerajaan tersebut. mereka mengambil langkah dakwah secara damai dengan
suatu maksud tidak lepas satu tujuan akan mengalami keberhasilan dari
dua kemungkinan tujuan. Kemungkinan tujuan yang pertama adalah bahwa
dengan cara membaur menjadi rakyat Majapahit, mereka akan dapat
mengislamkan seluruh pulau Jawa secara damai dengan cara menyusup di
tengah masyarakat bahkan kalau perlu menyusup ke dalam lingkungan
penguasa Majapahit walaupun secara perlahan-lahan.
Seandainya
pengislaman tidak dapat berlangsung secara cepat, maka setidaknya mereka
berusaha supaya diterima dengan baik oleh penguasa Majapahit untuk
tinggal di wilayahnya, menjadi rakyat, dan mengembangkan keturunan di
kerajaan tersebut. Kemungkinan tujuan yang kedua adalah bahwa apabila
saudara muslim mazhab Islam Sunni pada akhirnya dapat menyusul masuk ke
pulau Jawa, maka mereka akan mendapatkan satu dari dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama adalah bahwa kerajaan Hindu Majapahit yang masih
kuat akan berhadapan dengan kaum Muslimin mazhab Sunni. Atau kemungkinan
kedua; kaum muslimin mashab Sunni akan berhadapan dengan kerajaan
Majapahit yang telah lemah karena tidak mendapatkan dukungan rakyat yang
sudah banyak beralih ke Islam Syiah oleh kaum musafir Perlak Pesisir
sebelumnya. Kedua kemungkinan ini lebih baik bagi mereka (kaum musafir
Perlak Pesisir). Apabila kaum muslimin Sunni berhadapan dengan kerajaan
Hindu Majapahit yang masih mempunyai kekuatan, maka besar kemungkinan
peperangan kedua belah pihak akan berlarut-larut, karena kaum muslimin
Sunni mempunyai dukungan yang kuat dari daerah Aceh atau Perlak
Pedalaman, dan Timur Tengah. Hal ini akan menguntungkan mereka. Apabila
situasi konflik antara kaum muslimin Sunni dan kerajaan Majapahit ini
benar-benar terjadi, maka posisi kaum musafir Perlak Pesisir di pulau
Jawa akan tetap aman.
Situasi politik kaum Syiah pelarian musafir
Perlak Pesisir di pulau Jawa yang berada dibawah kekuasaan penguasa
Hindu Majapahit berbeda dengan situasi mereka ketika masih di Perlak
dahulu yang berada dibawah persemakmuran Sriwijaya. Pada situasi di
Perlak dahulu, kerajaan Sriwijaya tidak ambil pusing pihak Perlak
Pesisir atau Perlak Pedalaman yang akan mereka perangi, kedua Perlak
tetap diperangi. Kaum Perlak Pesisir memang menghormati kerajaan
Sriwijaya ketika mereka masih berdiri sendirian (sebelum kedatangan kaum
muslim Sunni yang memecah kerajaan menjadi dua), akan tetapi mereka
memiliki kekuasaan sendiri sehingga tidak membaur dan menjadi bagian
dari kerajaan Sriwijaya. Penguasa kerajaan Sriwijaya tidak terlalu
mengenal mereka dan ambil pusing terhadap apapun yang dilakukan atau
tidak dilakukan oleh kaum Perlak Syiah. Termasuk apabila terdapat
kemungkinan bahwa suatu konflik sebenarnya berasal dari pihak lain yang
secara formal tampak sebagai satu wilayah dan keyakinan dengan kaum
Perlak Pesisir, akan tetapi sebenarnya memiliki kebijakan politik yang
berlainan.
Penguasa Sriwijaya tidak melihat kaum Perlak Pesisir
sebagai pihak yang berbeda dengan kaum Perlak Pedalaman. Kehancuran
kerajaan Perlak Pesisir tampak jelas disebabkan karena terjadinya
konflik antar negara, dengan mereka sebagai salah satu pihak yang
bersengketa mempunyai rekan koalisi. Dalam hal ini pihak yang berkoalisi
adalah kerajaan Perlak Pedalaman dengan Perlak Pesisir. Akan tetapi
kekuatan gabungan koalisi tersebut tidak cukup untuk mengimbangi musuh
yang lebih besar dan kuat, sehingga untuk menghentikan kekuatan musuh
yang besar dan kuat tersebut salah satu pihak yang berkoalisi harus
berinisiatif mengorbankan diri untuk menyelamatkan rekan koalisinya.
Kerajaan Perlak Pesisir memang punah di pulau Sumatra, tapi akibat dari
pengorbanan tersebut kerajaan Sriwijaya menjadi lemah dan tidak mampu
mengusik kaum muslimin di sekitar wilayah Aceh untuk selamanya.
Sedangkan
keadaan politik kaum syiah musafir Perlak Pesisir yang merantau ke Jawa
merupakan bagian dari masyarakat kerajaan Majapahit, dan hidup di
tengah-tengah kerajaan tersebut. Sehingga apabila terjadi benturan
antara kaum muslimin Sunni yang datang ke Jawa dengan penguasa
Majapahit, dan kaum Perlak Pesisir merasa bahwa kedudukan mereka belum
cukup kuat untuk membantu saudaranya kaum muslim Sunni, sehingga mereka
terpaksa mengambil posisi netral, maka penguasa Majapahit akan dapat
melihat bahwa kaum Syiah bekas pelarian Perlak berada pada pihak yang
netral. Dan apabila mereka berhasil dalam misinya mengislamkan sebagian
besar masyarakat pulau Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit,
maka kerajaan tersebut akan lemah dengan sendirinya. Sehingga ketika
kaum muslim sunni memasuki pulau Jawa, maka rakyat pulau Jawa yang telah
Islam tinggal mencabut dukungan kepada penguasanya sendiri. Hal ini
yang terjadi di pulau Jawa.
Dari semua uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pihak yang melemahkan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan
Majapahit yang berakibat kepada keruntuhan dua kerajaan besar Nusantara
tersebut adalah kaum muslimin Perlak Pesisir dan keturunannya yang
bermazhab Syiah. Pada waktu menghadapi Sriwijaya mereka menggunakan
strategi perang frontal sampai rajanyapun terbunuh dalam peperangan.
Sedangkan ketika menghadapi kerajaan Majapahit mereka menggunakan
strategi yang bertolak-belakang dengan strategi yang ditempuhnya ketika
menghadapi Sriwijaya. Ketika menghadapi Majapahit, keturunan kaum Perlak
Pesisir menggunakan strategi kehalusan dan kelembutan. Mereka
menggembosi dan mengalihkan dukungan rakyat Jawa kepada kerajaan
tersebut dengan cara mengislamkan penduduknya.
Yang perlu diobservasi
lebih lanjut adalah alasan kerajaan Demak untuk menyerang Majapahit.
Pada uraian sebelumnya telah dipaparkan sebuah argumentasi yang
menyatakan bahwa kecil sekali kemungkinannya bahwa Demak menyerang
Majapahit dengan tujuan dakwah Islam kepada masyarakat Hindu, karena
sebagian besar masyarakat kerajaan Majapahit telah memeluk Islam. Maka
salah satu kemungkinan alasan kuat bagi kerajaan Demak untuk menyerang
penguasa Majapahit adalah ?dakwah? Islam mazhab sunni kepada masyarakat
Majapahit yang beraliran Syiah, seperti yang telah sering terjadi di
daerah timur tengah. Bila dilihat dari sudut pandang manajemen konflik
tindakan penguasa Demak tersebut sangat masuk akal. Apabila mereka
membiarkan saja masyarakat Jawa yang telah menjadi muslim syiah dibawah
penguasa Majapahit yang berkeyakinan Hindu, maka lambat laun penguasa
Majapahit juga akan menjadi pemeluk Islam mazhab syiah. Hal ini akan
menyulitkan perkembangan dakwah mereka, apalagi jika dilakukan dengan
cara berdakwah Islam mazhab sunni secara langsung kepada masyarakat di
pulau Jawa yang telah menganut Islam syiah, argumentasi ajaran Islam
mazhab Sunni tidak akan mampu untuk menundukkan argumentasi ajaran Islam
mazhab Syiah. Secara historis, sejak dari kelahirannya di timur tengah,
ajaran Islam mazhab Sunni dalam penyebaran ajarannya selalu membutuhkan
kehadiran penguasa yang memiliki kekuatan materi dan fisik untuk
mendukung dakwahnya.
Oleh karena itu untuk berdakwah di pulau Jawa,
kaum muslim Sunni tidak akan mampu meniru saudaranya Syiah yang memulai
dakwah dari bawah, menyusup, berbaur di tengah-tengah masyarakat
Majapahit. Masyarakat kalangan bawah sudah menjadi muslim Syiah dan
sulit untuk mensunnikan mereka melalui argumentasi logis. Kaum muslim
Sunni harus mendirikan sebuah kerajaan kemudian menyingkirkan
pesaing-pesaingnya, setelah semua hal itu dilaksanakan maka dakwah Islam
mazhab sunni di pulau Jawa baru dapat mereka mulai. Penguasa kerajaan
Majapahit harus disingkirkan terlebih dahulu. Maka tidak seperti kaum
muslim syiah keturunan musafir Perlak Pesisir yang lebih mengutamakan
rakyat kebanyakan sebagai sasaran dakwah, kaum muslim Sunni berdakwah
dengan sasaran para bangsawan, keluarga raja dan anak keturunannya. Oleh
karena itu media-media yang digunakan oleh kaum muslim Sunni di pulau
Jawa adalah media-media elit/khusus yang hanya digunakan oleh masyarakat
kalangan atas seperti misalnya pertunjukan wayang. Pada masa itu hanya
kalangan bangsawan dan keluarga raja Majapahit yang mampu
menyelenggarakan serta menonton pertunjukkan wayang.
Setelah posisi
kaum muslim Sunni sudah cukup kuat di pulau Jawa dengan masuk Islamnya
raden Patah, putra prabu Brawijaya yang terakhir (Brawijaya V), maka
mereka harus segera mengambil alih kekuasaan di pulau Jawa. Hal ini
penting jika kaum muslim sunni hendak mencegah kalangan penguasa di
pulau Jawa dikuasai oleh kaum muslim syiah. Selain itu dengan jatuhnya
kekuasaan di tangan mereka (kaum muslim sunni), maka situasi politik
yang seperti situasi politik di timur tengah akan dapat dikondisikan
pula di Nusantara Jawa. Maka setelah mendirikan kerajaan Islam di Demak,
kaum muslim sunni segera menyerang Majapahit.
Pada
uraian-uraian sebelumnya telah dipaparkan argumentasi yang menyatakan
bahwa serangan Demak tersebut bukanlah perang yang bertujuan dakwah
Islam kepada masyarakat Jawa yang beragama Hindu, akan tetapi lebih
kepada persiapan ?dakwah? untuk menghadapi persaingan antar mazhab dalam
Islam. Salah satu peristiwa sejarah yang dapat dijadikan indikasi bagi
argumentasi diatas adalah adanya suatu fenomena bahwa pada waktu
peperangan antara Demak dan Majapahit berlangsung, panglima angkatan
perang Majapahit saat itu dipegang oleh seorang muslim bernama raden
Kusen (raden Husain). Nama panglima perang Majapahit itu pada konteks
masanya mengindikasikan bahwa ia seorang muslim yang bermazhab ahlul
bayt. Hal ini menandakan bahwa kaum muslim Syiah sudah mempunyai
pengikut yang jumlahnya besar di pulau Jawa ketika para walisanga datang
ke pulau tersebut.
Lalu bagaimana masyarakat Islam syiah keturunan
musafir Perlak Pesisir di Jawa mengambil sikap ketika dihadapkan pada
situasi peperangan antara Demak versus Majapahit. Apakah mereka lebih
condong kepada Demak atau kepada Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah
tempat mereka mendapatkan penghidupan. Kerajaan Majapahit tidak mengusik
perbedaan keyakinan, bahkan memberikan ruang bagi kaum syiah keturunan
musafir Perlak untuk berkembang. Sementara kerajaan Demak adalah
kerajaan Islam, oleh karenanya mereka adalah saudara dalam keimanan.
Sejarah sedikit-banyak telah menunjukkan bahwa kaum muslimin syiah
keturunan para musafir Perlak lebih condong untuk membela saudara
seimannya, yaitu kerajaan Demak.
Ketika diserang oleh Demak, kerajaan
Majapahit langsung mengalami keruntuhan, apabila masyarakatnya
melakukan pembelaan kepada kerajaan tersebut tentu situasinya akan lain.
Hal ini sedikit banyak menunjukkan sikap masyarakat muslim syiah
keturunan para musafir Perlak Pesisir di Jawa ketika dihadapkan dengan
situasi peperangan antara Demak versus Majapahit. Tentunya tidak semua
masyarakatnya mempunyai persamaan pendapat dan sikap yang mutlak
identik. Satu atau dua orang pasti mempunyai pendapat politik yang
berbeda, seperti sikap yang diambil oleh raden Kusen yang malah menjadi
senopati perang bagi kerajaan Majapahit untuk melawan Demak.
Tokoh
seperti raden Kusen kemungkinan sekali memiliki pendirian bahwa kerajaan
Majapahit telah memberi ruang kepada kaum syiah keturunan Perlak
Pesisir untuk berkembang dan memperoleh penghidupan, sehingga ia merasa
berhutang budi kepada Majapahit. Atau kemungkinan sekali bahwa ia juga
khawatir bahwa apabila kerajaan Demak mengalami kemenangan, maka masa
depan perkembangan kaum syiah di pulau Jawa akan suram. Kemungkinan bagi
kekhawatiran raden Kusen ini sebenarnya sangat masuk akal atau
beralasan, jika ia melihat sejarah masa lampau hubungan kedua mazhab
Islam tersebut, baik di timur tengah maupun di Perlak. Selain raden
Kusen tampaknya ada satu atau dua orang lagi yang berpendapat sama
dengan beliau. Salah satu diantaranya adalah Syekh Siti Jenar. Syekh
Siti Jenar tampaknya juga memiliki pendapat yang sama dengan raden
Kusen.
Yang mengherankan adalah sikap yang diambil masyarakat muslim
syiah keturunan musafir Perlak Pesisir untuk lebih memilih membela
kerajaan Demak yang bermazhab sunni. Walaupun mereka memahami sejarah
masa lampau di timur tengah maupun di Perlak, yaitu apabila kerajaan
Demak mengalami kemenangan maka timbul suatu kemungkinan kuat bahwa
kehidupan kaum syiah akan mengalami tekanan keras dari kaum sunni. Apa
yang mendasari masyarakat muslim syiah keturunan para musafir Perlak
Pesisir mengambil pilihan untuk membela saudaranya yang sunni walaupun
terdapat kemungkinan bahwa apabila mengalami kemenangan kerajaan Demak
akan menekan mereka.
Sejarah masa lalu sedikit-banyak menunjukkan
bahwa kaum muslimin syiah selalu lebih mengutamakan keselamatan
peradaban Islam secara keseluruhan daripada kelompok atau mazhab. Mereka
juga terlihat selalu piawai dalam menyusun berbagai strategi untuk
mencapai tujuannya. Tampaknya strategi yang diambil oleh kaum muslimin
syiah keturunan para musafir Perlak Pesisir di pulau Jawa pun
berdasarkan pada pemikiran yang sangat mendalam. Apabila melihat sejarah
pada masa setelahnya, maka terlihat bahwa kehidupan Islam yang damai di
pulau Jawa hanya mengalami masa yang tidak begitu lama. Aksi penjajahan
oleh penjajah Belanda segera tiba dalam waktu yang tidak begitu lama
setelah keruntuhan kerajaan Majapahit. Gelagat dari karakter orang-orang
Eropa terutama karakter penjajahannya di masa depan tentu terbaca juga
oleh masyarakat diseluruh dunia. Walaupun arus informasi dunia di jaman
Majapahit lebih lambat apabila dibandingkan dengan arus komunikasi di
jaman sekarang. Tapi di jaman dahulu arus informasi global juga sudah
terbentuk, apalagi bagi negara-negara yang terletak di pinggiran
samudera Hindia yang arus perpindahan manusianya lebih cepat dari pada
di bumi belahan lain. Berita tentang keadaan di Eropa, termasuk tabiat
dan kecenderungan masyarakatnya juga akan sampai ke daerah Nusantara.
Dalam
menghadapi keadaan dunia di masa depan, terutama ancaman dari
kecenderungan bangsa Eropa yang akan bersikap agresif terhadap
bangsa-bangsa lain tentu sudah dilakukan suatu usaha prediksi oleh
bangsa-bangsa lain di dunia saat itu, termasuk diantaranya kaum muslimin
syiah keturunan musafir Perlak Pesisir. Terlihat suatu usaha
menggerakkan persatuan antar sesama muslim oleh mereka. Masyarakat
muslimin syiah keturunan para musafir Perlak Pesisir sudah tidak ambil
pusing lagi dengan perbedaan mazhab. Mereka tampaknya rela kehilangan
identitas mazhabnya dan menerima Islam sunni dipeluk oleh sebagian besar
masyarakat di pulau Jawa. Tapi yang penting inti dari ajaran Islam
mazhab syiah tetap dipegang oleh masyarakat Jawa keturunan para musafir
Perlak Pesisir. Jejak tersebut terlihat setelah mereka mendirikan
kerajaan Islam sufistik di pedalaman pulau Jawa paska keruntuhan
kerajaan Demak. Jejak peninggalan kaum syiah akan dibahas pada uraian
nanti. Sekarang akan dibahas jejak langkah-langkah dalam sejarah yang
ditempuh kaum muslimin syiah keturunan Perlak Pesisir di pula Jawa dalam
berinteraksi dengan kaum muslim sunni di pulau Jawa.
Budaya Kejawen sebagai Metamorfosis Ajaran Islam Syiah di Pulau Jawa