Search

Showing posts with label Ayatullah. Show all posts
Showing posts with label Ayatullah. Show all posts

Friday, April 19, 2013

Al-Quran dan Ahlul Bait Dua Pusaka Berharga Umat

Ayatullah al Uzhma Abdullah Jawadi Amuli, salah seorang ulama marja taklid Syiah yang ma'ruf dikalangan umat muslim sebagai ulama akhlak dalam penyampaiannya pada kelas akhlak yang diasuhnya menyampaikan beberapa hal berikut:

Al-Qur'an al Karim sebagai risalah kenabian disandingkan dengan Ahlul Bait as, yang menjadi penyempurna agama ini. Setiap ayat-ayat Al-Qur'an disampaikan maka penjelasan dan sabda-sabda mulia dari Ahlul Bait as akan menyertainya, dan setiap ucapan Ahlul Bait dinukil maka ayat-ayat Al-Qur'an akan menegaskan kebenarannya. Karenanya dua pusaka berharga ini tidak akan mungkin bisa dipisahkan. Memisahkan keduanya berupa penyimpangan dari apa yang Rasulullah Saw wasiatkan kepada umat ini. Upah atas dakwah dan risalah yang disampaikan Nabi adalah kecintaan kepada Al-Qur'an dan Ahlul Bait, bukan sekedar membaca Al-Qur'an.

Setiap muslim harus menunjukkan kecintaan kepada Al-Qur'an dan Ahlul Bait. Barangsiapa yang mengaku mencintai Al-Qur'an namun tidak memiliki pemahaman dan pengenalan yang benar terhadap Al-Qur'an,  maka pada hakikatnya itu hanya sedekar pengakuan yang tidak berdasar. Begitupula yang mengklaim diri mencintai Al-Qur'an namun tidak mengamalkan nilai-nilai Ilahiah yang terkandung didalamnya, maka sesungguhnya ia bukanlah termasuk pecinta Al-Qur'an. Al-Qur'an harus menjadi kecintaan dan belahan jiwa manusia, demikian pula kecintaan kepada Ahlul Bait. Kecintaan pada Ahlul Bait harus sampai pada derajat merasakan setiap kepedihan dan derita yang pernah mereka alami dalam perjuangan berat mendakwahkan Islam.

Upah apa yang diberikan sebagai balasan dari risalah Nabi?

Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa pada hakikatnya upah Nabi dalam penyampaian dakwahnya juga kembali manfaatnya pada diri manusia sendiri. Manfaat kecintaan kita pada Ahlul Bait, pada akhirnya akan kembali juga pada kita. Ini sama halnya dengan nyawa syuhada, yang Allah SWT sebut dalam Al-Qur'an sebagai transaksi jual beli. Syuhada menjual nyawanya dan Allah yang membelinya. Hal tersebut bukan berarti Allah membutuhkan nyawa syuhada sehingga membelinya, melainkan syuhada berjihad ikhlas karena Allah dan syahid untuk meraih manfaat yang kembali juga pada dirinya. Kita bukanlah pekerja atau karyawan bagi Allah melainkan pekerja bagi diri sendiri. Pahala dari amalan-amalan baik kita, kembali manfaatnya untuk diri kita sendiri.

Upah terpenting sebagai balasan dari risalah Nabi sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur'an adalah kecintaan kepada keluarga Nabi. Kecintaan kepada Ahlul Bait adalah pondasi awal dari segala kebaikan di dunia, sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an :
  "قُل لا أَسأَلُکُمْ عَلَیْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِی الْقُرْبَىٰ" 
yang kemudian dilanjutkan,
  "ومَن یَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِیهَا حُسنا"
maksudnya yaitu, sebaik-baiknya kebaikan adalah kecintaan kepada keluarga Nabi, dan jika kamu memiliki kecintaan itu, maka Kami akan lipat gandakan pahala untukmu.

Bagaimana mencintai keluarga Nabi?

Kewajiban kita berkenaan dengan keluarga Nabi adalah memberikan kecintaan dan pemuliaan kepada mereka. Bentuk kecintaan adalah mengenal siapa saja mereka, mengenal ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran mereka, dan kemudian mengamalkan apa yang telah mereka perintahkan dan anjurkan. Kesemua itu adalah bentuk kecintaan dan ungkapan terimakasih atas pengorbanan dan perjuangan mereka dalam mendakwahkan ajaran Ilahi ini.

Maqam Sayyidah Fatimah as

Syaikh Kulaini meriwayatkan dalam kitabnya Al Kafi, bahwa malaikat Jibril as terkadang mengunjungi Sayyidah Fatimah as dan menyampaikan kabar kepadanya. Dan Sayyidah Fatimah as pun menyampaikan berita-berita yang disampaikan malaikat Jibril as kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang kemudian dicatat oleh beliau, sehingga dikenal dengan nama "Mushaf Fatimah".

Sebagaimana nabi Ibrahim as dan nabi Musa as memiliki mushaf, demikian pula dengan Sayyidah Fatimah as. Hal ini menunjukkan ketinggian maqam putri kesayangan Nabi Saw tersebut.

Kedudukan Sayyidah Fatimah as disisi muslim Syiah dan para pecintanya adalah sebagaimana Anbiyah dan Aimmah as dalam sisi hujjah. Bahwa apapun yang disampaikan dan diucapkan Sayyidah Fatimah as adalah hujjah. Sehingga ulama-ulama bisa mengeluarkan fatwa dengan merujuk kepada apa yang disampaikan oleh Sayyidah Fatimah as. Hal ini meniscayakan adanya sifat kemaksuman pada diri Sayyidah Fatimah, sehingga beliau as tidak mungkin menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Perkataan Sayyidah Fatimah as adalah hujjah dan dalil dalam agama ini. Sebagaimana Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah pernah menyampaikan hujjah dengan bersandar pada apa yang telah diucapkan oleh Sayyidah Fatimah as. Karenanya keyakinan mendasar dalam aqidah Syiah, bahwa Sayyidah Fatimah as diantara orang-orang maksum yang telah disucikan Allah SWT dari dosa-dosa dan kesalahan sehingga tidak ada jalan bagi syaitan untuk menggoda dan membuat beliau as menjadi lalai, khilaf dan terlupa.

Sayyidah Fatimah as pernah bersabda, "Barang siapa yang beribadah kepada Allah SWT dengan sebaik-baiknya keikhlasan, maka Allah SWT akan memberikan kepadanya sebaik-baiknya maslahat." 

Sunday, February 10, 2013

Dua Baris Malaikat Di Belakang Orang yang Shalat Membaca Azan dan Iqamah



Mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa besarnya pahala membaca azan dan iqamah untuk shalat yang dilakukan secara sendirian. Untuk itu, menarik sekali bila menyimak penjelasan Ayatullah Mohammad Javad Ansari Hamedani tentang kebesaran pahala ini.

Ayatullah Ansari Hamedani dilahirkan pada tahun 1320 Hs di kota Hamedan. Kemampuan dan potensinya yang luar biasa membuat beliau berhasil mencapai derajat mujtahid pada usia 24 tahun. Agha Mirza Agha Qazi menceritakan banyak kisah tentang beliau. Murid-murid Ayatullah Ansari antara lain Hassan Ali Nejabat, Syahid Dastghib dan Sayid Abdollah Fatemi dan lain-lain.

Beliau berkata, "Suatu hari saya masuk ke dalam masjid. Saya melihat seorang lelaki tua dan termasuk warga umum sebagaimana yang lainnya. Ia sedang shalat dan di belakangnya ada dua baris malaikat yang shalat di belakangnya. Lelaki tua ini tidak pernah tahu akan barisan para malaikat ini. Saya paham bahwa lelaki tua ini pasti membaca azan dan iqamah sebelum mengerjakan shalat. Karena dalam riwayat disebutkan:

"Barang siapa yang membaca azan dan iqamah sebelum shalat wajib sehari-hari, maka dua baris malaikat akan mengikuti shalat di belakangnya, bila ia membaca salah satunya, maka satu baris malaikat yang mengikuti shalat di belakangnya dan panjangnya barisan-barisan ini dari timur sampai barat dunia!"