Search

Showing posts with label Imam Ridha as. Show all posts
Showing posts with label Imam Ridha as. Show all posts

Friday, March 8, 2013

Shalawat: Zikir Pengampun Dosa dan Penghancur Kesalahan


Shalawat harus dijadikan pendahuluan doa dan kunci bagi terkabulkannya permohonan manusia kepada Allah Swt. Shalawat menjadi hadiah terbaik dari Allah kepada manusia yang menjadi faktor yang mengkilapkan kembali jiwa manusia dan meluaskan rahmat Allah.
Sekaitan dengan faedah dan pengaruh tak ternilai shalawat, Maksumin as telah mengisyaratkan poin-poin penting. Imam Ridha as dalam sebuah ucapannya menyebut shalawat sebagai sumber terampuninya dosa dan hancurnya kesalahan.

Imam Ridha as berkata, "Siapa saja yang tidak mampu menebus dosa-dosanya, maka hendaknya ia banyak mengucapkan shalawat. Karena sesungguhnya shalawat dapat menghapus dan membinasakan dosa, bila bukan hak manusia."(1)

Dalam kesempatan lain, Imam Husein as berbicara tentang pentingnya zikir shalawat. Beliau mengatakan, "Mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya pahalanya sama dengan mengucapkan Tasbih (Subhanallah), Tahlil (La Ilaha Illallah) dan Takbir (Allahu Akbar) di sisi Allah Swt."(2)

Imam Ridha as melakukan shalat Subuh dan setelah selesai menunaikannya, beliau biasa mengucapkan zikir Tasbih (Subhanallah), Tahmid (Alhamdulillah), Takbir (Allahu Akbar) dan Tahlil (La Ilaha Illallah), setelah itu beliau membaca shalawat kepada Rasulullah Saw dan keluarganya sehingga matahari terbit.(3)

Abdullah bin Abdullah Dehqan mengatakan:

"Suatu hari saya mendatangi Imam Ridha as dan ketika berada di hadapannya, beliau berkata, ‘Apa arti dari firman Allah Swt yang mengatakan, ‘Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat." (QS. al-A'la: 15)?"

Saya menjawab, ‘Setiap kali engkau mengingat nama Allah, maka bangkitlah untuk melaksanakan shalat.'

Imam Ridha as berkata, ‘Bila memang demikian artinya, maka Allah memberikan kewajiban yang tidak pada tempatnya dan keluar dari kemampuan manusia.'

Saya bertanya, ‘Lalu bagaimana seharusnya?'

Beliau menjawab, ‘Setiap kali dia mengingat nama Allah, maka ucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya."(4)

Catatan:
1. Bihar al-Anwar, jilid 91, hal 47, hadis 2.
2. Amali, Syeikh as-Shaduq, hal 68.
3. Bihar al-Anwar, jilid 49, hal 92, Sirah Radhawi, hal 19-20.
4. Ushul al-Kafi, jilid 4, hal 252.

Thursday, February 7, 2013

Nasihat Imam Ridha as Kepada Pengikut Ahli Bait


Imam Ridha as dalam sebuah nasihat bijak kepada para pengikut Ahli Bait meminta mereka agar meninggalkan debat sia-sia yang tidak ada untungnya bagi mereka dan lebih baik bersikap diam.

Abdul Azhim Hasani termasuk perawi terpercaya dan pecinta Ahli Bait as. Sekaitan dengan dirinya, Imam Hadi as pernah berkata, "Sesungguhnya engkau adalah pecinta kami."

Suatu hari Imam Ridha as melihat Abdul Azhim Hasani dan mengajarkannya beberapa nasihat bijak agar menyampaikannya kepada para pengikut Ahli Bait. Isi nasihat Imam Ridha as itu sebagai berikut:

"Wahai Abdul Azhim! Sampaikan salamku kepada para pecinta Ahli Bait dan katakan kepada mereka:

1. Jangan beri jalan kepada setan ke dalam hati.

2. Hendaknya jujur dalam berucap dan menjadi orang yang amanah.

3. Tinggalkan debat yang sia-sia dan tidak ada untungnya bagi mereka dan lebih baik bersikap diam.

4. Memperhatikan dan bersilaturahmi dengan mereka. Karena perbuatan ini membuat mereka lebih dekat kepada saya.

5. Jangan sampai mereka saling bermusuhan dan berkata buruk. Karena saya berjanji barangsiapa yang melakukan pekerjaan ini dan mengganggu seorang pecintaku atau membuatnya marah, saya memohon kepada Allah Swt agar menyiksanya dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.

6. Katakan kepada mereka, "Demikianlah Allah mengampuni mereka yang berbuat baik dan memaafkan kesalahan mereka, kecuali di antara mereka ada yang berbuat syirik atau mengganggu para pecintaku atau dengki terhadap mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memaafkannya, sehingga mengubah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Kapan saja ia meninggalkan perbuatan buruk ini, ampunan Allah akan meliputinya. Bila tidak, maka ruh iman akan keluar dari hatinya, terpisah dari wilayah kami dan tidak ada manfaatnya wilayah kami baginya. Wa'udzubika Min Dzalik.

(Al-Ikhtishas dan Bihar al-Anwar)