Search

Showing posts with label Nabi Adam. Show all posts
Showing posts with label Nabi Adam. Show all posts

Wednesday, January 23, 2013

Filsafat dari Nama Rasulullah Saw


Yang heboh lagi, dari nama Muhammad, di situ ada makna yang terkandung. Yaitu, jika kita mau mengangan-angan kerangka huruf Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab ternyata menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf ha (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.

 
AMIRUL ULUM*

 
Filsafat dari Nama Rasulullah SawKetika Rasuulluh Saw belum dilahirkan, nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam sampai Nabi Isa telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rasulullah Saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad. Allah berfirman
"Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QR. As-Shaf : 6)

Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah Swt yang tentunya ada makna yang terkandung. Di dalam nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filsuf tentang adanya gerakan salat. Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri. Huruf ha (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk. Huruf mim (م) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud. Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat salat.

Selain makna tersebut, ada juga makna yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighat mubalaghah (bentuk yang mempunyai arti banyak) dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad, nama dari Nabi Muhammad Saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Allah. 

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Aku adalah Ahmad tanpa mim (م)” Ahmad tanpa mim (م) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Allah yang sangat unik. Mim (م) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Allah dalam diri Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta. Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Khaliqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Allah dengan sang kekasihnya yang mutlak. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Saw merupakan mediator antara makhluk dengan Allah Swt.

Menurut Iqbal, "Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah “Zahir”nya Allah; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Ketika anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri anda, hadirkan Muhammad. Ketika anda ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Ketika anda ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni yuhbibkumullah, “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian.” Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Sebab seperti kata Nabi, “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Selain nama Ahmad, Rasulullah Saw juga mempunyai nama Muhammad. Nama ini pemberian dari kakeknya, Abdul Muthalib. Nama ini diilhami atas  harapan besar  Abdul Muthalib agar kelak cucunya ini dipuji oleh makhluk seantero dunia karena sifatnya yang terpuji. Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maful (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Maksum bin Ali dalam kitab Amsilatut Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rasulullah Saw dengan membaca shalawat untuknya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).

Yang heboh lagi, dari nama Muhammad, di situ ada makna yang terkandung. Yaitu, jika kita mau mengangan-angan kerangka huruf Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab ternyata menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  ha (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.

Selain itu, ada juga makna-makna yang tersembunyi lagi. Yaitu, huruf mim menunjukan kata Minnah yang berarti anugerah. Sebab, Allah memberi anugerah kepada Rasulullah Saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya. Huruf ha menunjukan kata Hubbun (cinta). Sebab, Allah mencintai Nabi Muhammad Saw dan umatnya melebihi cintanya kepada nabi-nabi yang lain beserta umatnya. Huruf mim yang kedua menunjukan kata Maghfirah yang berarti ampunan. Sebab, Allah mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk umatnya, maka  Allah akan mengampuni dosa-dosa umat Nabi Muhammad Saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti umat-umat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Allah. Huruf dal menunjukan kata Dawaamuddin. Artinya, abadinya agama Islam. Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.

Kesimpulan dari semua ini adalah, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah salat. Sebab, salat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw. Jika seseorang sudah menjalankan salat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya. Karena umat Nabi Muhammad Saw yang masuk ke surga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian? Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka. Adapun mengenai orang kafir, ada ulama yang berpendapat bahwa mereka di neraka itu berwujud babi.

*Penulis Adalah Esais dan ketua Website PP. Al Anwar Sarang Rembang Jateng asal Pati.

Thursday, January 3, 2013

Mengungkap Arti Arbain

Kehidupan maknawiah tidaklah lepas dari nilai angka-angka. Setiap angka memiliki arti tersendiri. Nilai angka lima diartikan bahwa ada lima nabi ulul azmi (lima nabi pembawa kitab suci), dan lima anggota keluarga Nabi Muhammad saw.
Nilai angka tujuh diartikan dengan tujuh langit dan tujuh kota cinta, tujuh tahapan perjalanan ruhani dalam irfan, dan tujuh kali tawaf di Baitul Haram Kakbah.
Angka dua belas diartikan dua belas manusia suci, dua belas mata air yang terpancar dari batu oleh mukjizat Nabi Musa a.s. Angka empat belas diartikan sebagai 14 manusia suci.

Akal manusia mencapai tingkat kesempurnaan aqliah pada usia empat puluh tahun dan ini berlaku untuk setiap orang. Nabi Muhammad saw. pada usia empat puluh tahun terpilih manjadi nabi, Nabi Musa a.s. empat puluh hari menyendiri di atas gunung untuk mendapatkan tujuh perintah (seven commandements) untuk kaumnya.


Kaum Bani Israil dikarenakan kekafiran akan nikmat Tuhan dan penyembahan mereka kepada anak sapi mereka dihukum selama empat puluh tahun. Penyempurnaan pembentukan dalam penciptaan tubuh Nabi Adam a.s. dalam empat puluh hari. Kaum arif dan penempuh jalan ruhani melakukan pembersihan diri mengacu dari empat puluh hari penciptaan Nabi Adam a.s.


Syekhul Isyraq mengatakan bahwa Allah Swt. mencipta manusia dalam empat puluh hari dan setiap harinya ia memberikan sifat kepadanya di mana setiap hijab dan tabir melingkupinya hingga pada hari ke empat puluh sifat-sifat itu mencapai puncaknya.


Dalam proses pembersihan diri seorang penempuh jalan ruhani setiap harinya harus membersihkan dirinya dari sifat-sifat ini hingga mereka pada hari keempat puluh mendapati dirinya sebagai manifestasi dari Yang Maha Haq.


Meskipun nilai empat puluh adalah jumlah angka, akan tetapi dalam budaya irfan Islam (tasawuf) nilai ini berarti “Kebagaimanaan dalam perilaku”, untuk itu dalam pengulangan amal perbuatan sampai empat puluh kali adalah salah satu dimensi penyebab kesempurnaan ruhaniah manusia. Sayid Mahdi Bahrul Ulum terkait dengan angka empat puluh mengatakan:


Saya yakin kepada diriku dan mengatakan bahwa ini adalah nilai angka yang mulia dari jumlah angka-angka yang memiliki kekhususan dan pengaruh yang spesifik dalam kapasitas dan penyempurnaan secara alamiyah menuju tingkatan keyakinan.


Kekhususan angka empat puluh dalam mewujudkan prilaku dan perbuatan, kecerdasan, ataukah kebiasaan dalam sifat adalah satu hal yang telah di riwayatkan dalam hadis dan sunnah. Angka empat puluh dalam suluk atau proses pembersihan diri digunakan untuk menarik cahaya emanasi Ilahi sebagaimana yang di beritakan dalam Quran dan hadis-hadis dari para maksum a.s. serta para wali Allah. Pada kenyataannya angka empat puluh adalah simbolisasi dari proses penyempurnaan, kehadiran kesempurnaan, kematangan, keterlepasan dari kebodohan dan kekosongan tingkatan pertama dari kebangkitan dan kesadaran, dan sebagainya.


Banyak contoh yang bisa kita ambil dalam ayat dan riwayat yang menceritakan keutamaan angka empat puluh tapi pada akhirnya seperti dalam banyak hal bagi manusia adalah satu hal yang belum bisa dipahami. Begitupun nilai angka empat puluh. Rahasia apa sebenarnya yang tersimpan pada angka empat puluh ini tak kalah setelah empat puluh hari meninggalnya seseorang para keluarga dan kerabat pada berkumpul untuk menyatakan kesedihan dan bela sungkawa, kalaulah tujuannya adalah untuk mengingat orang yang mati tadi mengapa tidak mengambil angka tiga puluh, lima puluh atau angka berapa saja dan tidak memberikannya pada satu angka khusus?


Pada angka empat puluh ada tabir apa yang belum terungkapkan dan setelah berlalunya angka empat puluh ini kejadian apa yang akan terjadi, apakah kabut kesedihan angka bangkit atukah kemampuan penyelesaian masalah semakin peka dan memberikan kesempatan kepada manusia untuk memikirkan apa yang telah berlalu.


Mungkin perayaan Arbain (hari keempat puluh syahidnya Imam Husain a.s.) memberikan pandangan kepada manusia akan peristiwa Karbala, menjaga nilai-nilai kebangkitan, pesan-pesan dan menghidupkan peristiwa syahadah putra nabi. Sebuah kejadian yang kalau kita ibaratkan dengan Quran memiliki rahasia-rahasia yang tak terhitung dan tak ternilai.


Di manapun Arbain, di situlah langit syahadah dan di situlah cahaya hidayah berjalan. Di hari ini berusahalah jauh dari kesalahan dan perilaku-perilaku yang berlebihan, kenalilah Imam Husain dengan sebaiknya dengan penuh kejujuran dan penguatan nafas kesuciannya sehingga kita semua termasuk dalam kafilah cahaya yang bergerak menuju cita dan harapan kemanusiaan sejati.