
Di
masa khalifah kelima Dinasti Abbasiah, Harun al-Rashid, banyak
aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan ilmu dan menerjemahkan
berbagai karya. Yahya bin Khalid Barmaki, yang juga menteri saat itu,
termasuk salah satu ilmuwan yang banyak menelaah karya-karya Yunani dan
menerjemahkannya. Di masanya, Yahya mengirim utusan ke Roma untuk
membeli naskah-naskah asli Yunani. Upaya inilah yang menyebabkan banyak
buku Yunani yang berharga diangkut ke Baghdad. Selain itu, lalu-lalang
para ilmuwan dan dokter India, Iran dan Suryani kian menyemarakkan
dunia ilmiah saat itu dan mendorong masyarakat supaya menaruh perhatian
besar pada berbagai ilmu dan dn naskah-naskah ilmiah.
Para ilmuwan saat itu juga memahami bahasa Arab, sehingga mereka mudah
mendorong masyarakat setempat supaya menuntut ilmu. Berbeda dengan para
penakluk sejarah sebelumnya, para penguasa muslim saat itu setelah
berhasil menaklukkan wilayah, memindahkan perpustakaan wilayah yang
dikuasai ke Baghdad dan menerjemahkan karya-karya berharga setempat ke
bahasa Arab.
Harun al-Rasyid setelah berhasil
menaklukkan Ankara, Amuriah dan kota-kota di Roma, mengangkut banyak
buku kedokteran ke Baghdad. Setelah itu, buku-buku itu diserahkan ke
seorang dokter yang bernama Yohana bin Masawiyah Suryani untuk
diterjemahkan ke bahasa Arab.
Di masa Harun, sejumlah
buku perbintangan juga diterjemahkan ke bahasa Arab. Di antara
penerjemah ulung di bidang ilmu perbintangan adalah keluarga Fadhl bin
Noubakht yang juga salah satu dari keluarga Noubakht. Harun juga
mempercayakan jabatan pimpinan perpustakaan kepada Fadhl. Setelah itu,
banyak ilmuwan muslim yang mengkaji buku itu dan menyampaikan
pendapat-pendapat mereka. Bermula dari buku itu, ilmuwan muslim
menciptakan berbagai inovasi dan menyusun buku-buku baru.
Salah satu langkah penting di masa khalifah Manshur Abbasi adalah
mengembangkan gerakan terjemah, Baitul Hikmah sebagai warisan
peninggalan era Sasani. Di masa Sasani, Baitul Hikmah disebut-sebut
sebagai lembaga dan pusat pendataan dokumen dan data-data. Di lembaga
itu disimpan berbagai data sejarah, perang dan kisah-kisah asal Iran.
Baitul Hikmah juga dibangun sebagai miniatur Sasani di Baghdad.
Instansi ini bertugas menerjemahkan karya sejarah dan budaya dari bahasa
Pahlavi ke bahasa Arab. Untuk itu, banyak penerjemah ulung yang
dipekerjakan di instansi ini. Lebih dari itu, kelompok penjilid juga
dikerahkan untuk menjaga buku.
Hingga masa Harun dan
Barmakian, Baitul Hikmah terus bertahan. Akan tetapi di masa Makmun,
aktivitas di Baitul Hikmah kian bertambah. Instansi itu selain berfungsi
menjaga buku juga mengerahkan para peneliti dan ilmuwan supaya meriset
berbagai ilmu di bidang perbintangan dan matematika. Baitul Hikmah
menjadi tempat yang layak untuk menerjemahkan karya-karya Yunani ke
bahasa Arab.
Di masa Makmun, aktivitas Baitul Hikmah
lebih marak. Apalagi didukung Makmun yang bersemangat mengumpulkan,
menerjemahkan dan menyusun karya-karya, khususnya di bidang filsafat.
Semua itu sengaja dilakukan penguasa Dinasti Abbasiah saat itu untuk
memperkokoh pemikiran Muktazilah yang juga diyakini Makmun. Bahkan
disebutkan dalam sejarah bahwa Baitul Hikmah sangat populer di masa
Makmun hingga menyebabkan akademi Jundi-Shapour yang juga pusat ilmu
saat itu kalah pamor dan tidak semarak lagi.
Ibnu
Nadim dalam bukunya, al-Fehrest, menyebutkan, "Pada suatu malam, Makmun
bermimpi Aristoteles. Dalam mimpi itu, ia bertanya banyak hal kepada
Aristoteles. Setelah terjaga dari tidurnya, Makmun berkeinginan
menerjemahkan karay-karya Aristoteles." Kemudian, Makmun menulis surat
ke Raja Roma dan menyampaiakn keinginannya. Raja Roma pun mengabulkan
permintaan Makmun.
Setelah itu, Makmun mengirim
sejumlah utusan, termasuk Salman, Ketua Baitul Hikmah, mengumpulkan
karya-karya ilmiah di Roma dan mengirimkannya ke pusat pemerintahan
Dinasti Abbasiah. Kemudian Makmun juga mengutus Hunain bin Ishak yang
dikenal sebagai "Sheikhul Mutarjimim" atau Pemuka Penerjemah.
Di masa Makmun, semua peninggalan Yunani, India, Iran dan Arab
disentralkan ke Baitul Hikmah. Untuk memperkaya instansi ini,
karya-karya dan data syair di masa Jahiliah juga dikumpulkan di Baitul
Hikmah. Menerjemahkan karya-karya ke bahasa Arab dapat disebut sebagai
pekerjaan utama di instansi ini. Banyak penerjemah ulung dari bahasa
Yunani, Suryani, Roma, India dan Pahlavi yang ditugaskan untuk
menerjemahkan berbagai karya ke bahasa Arab.
Dengan
demikian, Baitul Hikmah dapat dipahami sebagai pusat terjemah dan
aktivitas ilmiah. Bahkan observartiom disediakan di instansi itu.
Seorang penulis asal Italia, Nalino, menyebut masa itu sebagai periode
gemilang ilmu perbintangan Islam.
Baitul Hikmah
dikelola oleh para ilmuwan yang saat itu dikenal sebagai "Shahib Baitil
Hikmah" yang artinya pengelola Baitul Hikmah. Disebutkan pula,
orang-orang Iran termasuk pengelola pertama Baitul Hikmah. Di antara
mereka yang paling tersohor adalah Sahal bin Harun, Saeid bin Harun dan
Salam atau Salman.
Sahal bin Harun berasal dari Dasht-i
Mishan,
Khozestan, sekitar wilayah Ahvaz. Di pertengahan awal abad ketiga
hijriah, Sahal hidup di Baghdad yang juga dikenal sebagai ilmuwan dan
sastrawan besar pada periode itu. Disebutkan pula, keluarga Barmak
menjadikan Sahal sebagai pimpinan Baitul Hikmah. Sahal sangat diakui di
bidang sastra dan juga dikenal sebagai penulis ulung. Karyanya yang
terkenal berhubungan dengan politik sipil dan etika manusia yang
ditulis berlandaskan gaya Kalilawa Dimna dari bahasa binatang dan
burung.
Salam atau Salman juga disebut-sebut sebagai
penerjemah dan ilmuwan Iran yang mengelola Baitul Hikmah. Ia
menerjemahkan buku-buku bahasa Persia ke Arab. Beberapa bagian buku
Kalilawa Dimna berhasil diterjemahkan oleh Salman. Ia juga termasuk
salah satu ilmuwan yang mengunjungi Roma dan meminta izin kepada raja
saat itu untuk membawa karya-karya filsafat dan perbintangan ke Baghdad
dan menerjemahkannya ke bahasa Arab.
Akan tetapi
popularitas Baitul Hikmah merosot karena perpindahan pusat pemerintah
Islam dari Baghdad ke Samara di masa Mu'tasim Abbasi di abad 218 hingga
227 hijriah. Menurut para pakar sejarah, Baitul Hikmah bertahan hingga
serangan Mongolia ke Bagdad pada tahun 656.
Karena
kerja keras penerjemah di masa itu, banyak karya ilmiah yang bertahan di
dunia ini. Tak dapat dipungkiri, kerja keras ilmuwan saat itu
berpengaruh pada perkembangan ilmu setelah itu. Bahkan Baitul Hikmah
juga menjadi tradisi para penguasa dari masa ke masa. Sebagai contoh,
al-Mustanshir Billah, khalifah Bani Umayah Andalusia mengikuti Makmun
dengan membangun perpustakaan besar di Qurtuba. Di Mesir, Dinasti Fatimi
juga membangun perpustakaan besar.
Dengan demikian
dapat disimpukan bahwa gerakan serius untuk mengokohkan gerakan terjemah
dan ilmiah dimulai dari masa Makmun. Kalangan Muktazilah juga
seringkali menggunakan karya-karya filsafat Aristoteles dan
mempelajarinya dengan detail untuk berdebat dengan lawan-lawan mereka.
Dari sinilah ilmu teologi yang juga dikenal dengan istilah ilmu kalam,
berkembang pesat.
Baca Juga:
Kebudayaan dan Peradaban Islam; Masa Transisi dari Penerjemahan Menuju Produksi Ilmu
Kebudayaan dan Peradaban Islam; Masjid Pusat Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam